Minggu, 05 Agustus 2012

Tim Terbaik PERSIB Sepanjang Masa



Persib besar karena sejarah, tim yang mempunyai perjalanan sangat panjang dan mampu berdiri hingga saat ini. Demikian juga dengan para pemainnya. Akan selalu banyak kisah dan cerita yang pernah terjadi dari para pemain selama membela Persib Bandung. Dan berikut adalah tim Persib terbaik sepanjang masa. Sangat sulit untuk menentukan siapa yang pantas menjadi penghuni starting XI di skuad Persib sepanjang masa. Jika pilihannya adalah 100 pemain Persib sepanjang masa, mungkin kasusnya tidak akan menjadi sesulit ini, karena memang sangat banyak pemain bagus Persib yang sedang atau pernah membela Persib dengan kemampuan dan latar belakang kisah serta prestasi yang berbeda-beda yang layak masuk di kategori ini. Tetapi pada akhirnya pilihan tetap harus dijatuhkan. Maka inilah sebelas pemain sepanjang masa Persib versi mengbal.com
Formasi yang dipilih dalam Persib sepanjang masa ini adalah 4-3-3. Alasannya, inilah formasi yang menunjukan orientasi menyerang. Dibanding 4-4-2 yang relatif seimbang atau 3-5-2 yang memberikan gelar Ligina pertama untuk Persib, formasi 4-3-3 lebih bisa menunjukan dominasi di sisi penyerangan. Dengan asumsi ciri khas permainan Persib yang senang menyerang dari kaki ke kaki, maka formasi 4-3-3 inilah yang akhirnya mendekati ke deskripsi itu. Di sisi lain, formasi 4-3-3 ini juga telah memberikan gelar juara pada era ‘dream team’ tahun 86 dan di tahun 1990.
Maka, inilah formasi Persib sepanjang masa:
4-3-3: Sobur, Encas Tonif, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Dede Iskandar; Adjat Sudrajat, Max Timisela, Yusuf Bachtiar; Aang Witarsa, Sutiono Lamso, Wowo Sunaryo.

KIPER
Sobur: Salah satu pemain yang tergabung dalam ‘generasi emas’ di era kebangkitan Persib di tahun 1986. Sobur lah yang mengawal gawang Persib ketika menjuarai Perserikatan di tahun  itu. Kehausan bobotoh atas gelar juara dan trauma selalu kalah pada dua final sebelumnya akhirnya terobati dengan diboyongnya gelar juara perserikatan ke Bandung. Dan keberhasilan itu tidak lepas dari andil Sobur dalam mengawal gawang. Dialah legenda dan kiper utama Persib pada dekade itu.

BEK
Adeng Hudaya: Jika bertanya siapa libero terbaik sepanjang sejarah Persib, nama Adeng Hudaya pasti akan menjadi satu nama yang tidak akan terlewatkan. Pria kelahiran Cikajang, Garut ini adalah Franz Beckenbauer-nya Persib. 12 tahun menjadi kapten Persib sejak tahun 1980, Adeng berhasil mempersembahkan dua gelar piala perserikatan di tahun 1986 dan 1990. Selama karir bermainnya, Adeng hanya terkena satu kartu kuning ketika melawan Persija.
Robby Darwis‘Halik ku aing’ atau dalam artian bahasa Indonesia adalah ‘awas, biar saya yang ambil’ identik dengan Robby Darwis. Kata yang menjelaskan tentang jangan ada yang mengambil  set piece selain Robby adalah gambaran bagaimana dominasi seorang Robby Darwis ketika dia ada di dalam lapangan. Robby adalah kapten Persib yang mengangkat piala di Liga Indonesia pertama. Dia juga satu-satunya pemain Persib yang mampu membawa Persib juara empat kali (1986, 1990, 1994, 1995). Medali emas Sea Games 1987 dan 1991 menambah catatan bahwa prestasinya diakui di Asia tenggara. Dialah salah satu generasi Marek janota yang bisa lintas generasi di tim sampai generasi Yaris Riyadi.
Dede Iskandar: Ketika harus menentukan siapa yang pantas mengisi posisi fullback kiri skuad Persib sepanjang masa, nama Dede Iskandar menjadi nama yang ‘wajib’ disimpan di posisi itu. Dialah fullback terbaik yang pernah dimiliki Persib. Tiga gelar juara di tahun 1990, 1994 dan di liga Indonesia tahun 1995 berhasil diboyongnya bersama Persib. Hampir tidak tergantikan di posisinya. Bahkan ketika Persib harus bermain dengan formasi 3-5-2, Dede Iskandar pun tetap tidak tergantikan. Dia bermain menjadi winger ketika formasi itu mulai masuk ke Persib di era Indra Thohir. Dede Iskandar memang bukan pemain dengan kategori top class di kancah sepakbola nasional. Tapi dia adalah pemain yang amat sangat berguna dan mempunyai peran vital di Persib. Hingga saat ini, belum ada fullback yang bisa sangat berguna untuk kinerja tim dan berprestasi seperti Dede Iskandar.
Encas Tonif: Encas Tonif adalah bek tangguh yang sulit dilewati. Bersama Risnandar, Ganjar Nugraha dan Sukowiyono, merekalah generasi yang terbaik sebelum era Adjat Sudrajat lahir. Encas Tonif merupakan bintang Persib di era nya. Sayangnya, dia bermain baik di waktu yang salah. Encas Tonif tergabung di skuad Persib yang terdegradasi di tahun 1978.

TENGAH
Adjat Sudrajat: Adjat Sudrajat,  dialah seorang fenomenal asal Bandung. Seorang bintang yang sesungguhnya. Pemakai dengan nomor punggung 10 yang di era itu pastilah pemain bintang, dan Adjat memang layak mengenakan nomor 10 di Persib. Dia yang memberikan gelar juara perserikatan tahun 1986 dan 1990. Layaknya seorang bintang besar, karir Adjat pun dibumbui beberapa kontroversi diluar lapangan dan menjadi kesukaan para kuli tinta. headline koran tentang Adjat diluar lapangan sama seringnya dengan headline tentang kehebatan Adjat di dalam lapangan. Termasuk kontroversi kepindahan Adjat dari Persib ke Bandung raya karena ketidakpuasannya terhadap management. Seorang bintang besar nan kontroversial pernah lahir disini. Adjat, dia memang fenomenal..
Max Timisela: Pemain tengah yang dari awal hingga akhir karirnya hanya bermain untuk Persib Bandung. Max timisela adalah gelandang dengan postur ideal. ‘Balik Bandung’, suatu idiom sepakbola yang artinya tendangan salto menjadi ciri khas pemain dengan panggilan Maxi ini. suatu ketika, di tahun 1965 tim nasional Indonesia beruju coba dengan Werder Bremen di Jerman. Max Timisela tampil trengginas mengacak-acak lini tengah Werder Bremen dan mecetak dua gol walaupun akhirnya timnas harus kalah dengan skor 5-6. Melihat talentanya yang luar biasa, wali kota Bremen akhirnya meminta Super Maxi untuk bergabung dengan Werder Bremen. Bagi mereka, kualitas Maxi setara dengan para pemain Eropa. Sempat bergabung dengan Werder Bremen, Maxi akhirnya harus ditarik pulang ke Indonesia dengan alasan tim nasional saat itu sangat membutuhkan jasanya.
Yusuf Bachtiar: Seorang playmaker paling brilian yang dimiliki oleh Persib. Tidak ada lagi yang bisa mengimbangi kemampuan dan imajinasi seorang Yusuf ketika bermain di lapangan. Visi bermain dipadukan dengan tekhnik yang baik adalah modal utama Yusuf. Ketika tim sedang bermain tanpa inspirasi dan ritme yang acak-acakan, Yusuf Bachtiar bisa tiba-tiba datang sebagai seorang jenius yang membuat permainan berubah menjadi baik. Satu assist kepada Sutiono dalam Final Liga Indonesia pertama di Senayan akan selalu diingat sebagai assist bersejarah yang membuat Persib menjadi juara pertama kalinya dalam era Liga Indonesia. Tiga gelar di Persib 1990, 1994, 1995 menjadi ganjaran atas permainan briliannya selama di Persib. Sampai saat ini belum ada yang mampu bermain seperti Yusuf di posisi playmaker. Yusuf, playmaker paling brilian yang pernah dimiliki Persib.

DEPAN
Sutiono Lamso: Pencetak gol di final perserikatan tahun 1994 dan final liga Indonesia pertama tahun 1995 yang akhirnya membuat Persib keluar sebagai juara di tahun itu. Berhasil mengumpulkan tiga gelar juara selama karirnya di Persib. Pemain yang selalu ada di saat yang tepat ketika melakoni laga-laga ‘high profile’. Terhitung sejak liga Indonesia pertama digulirkan pada tahun 1994, Sutiono Lamso tercacat telah mencetak total 42 gol. Rekor liga yang sampai sekarang belum terpecahkan di Persib.
Wowo Sunaryo: Salah satu pemain dengan gelar ‘guru’. Suatu gelar untuk para legenda besar di Persib. Selain memang Wowo pun pernah mengajar di sekolah rakyat sebagai seorang guru. Gelar ‘guru’ yang kurang lebih seperti gelar ‘sir’ di Inggris. Tidak berlebihan jika akhirnya guru Wowo dianggap menjadi legenda besar Persib. Dia mencetak dua gol di final tahun 1961 yang akhirnya mengantarkan Persib menjadi juara setelah mengalahkan Persija. Pada asean games Jepang tahun 1958, guru Wowo mencatatkan namanya sebagai pencetak gol terbanyak dengan 23 gol. Jika David Beckham melakukan latihan tendangan bebas dengan menggunakan ban yang digantung di gawang, guru Wowo berlatih akurasi tendangan menggunakan drum – drum bekas yang disimpan di gawang. Dan hal ini dilakukan guru Wowo di medio 50an. Jauh sebelum david Beckham melakukan metode latihan seperti ini.
Aang Witarsa: Aang Witarsa adalah striker dengan kemampuan lari dan olah bola sangat cepat. Dialah pemain perwakilan dari Persib bandung yang tergabung di tim nasional Olimpiade Melbourne 1956 yang sampai saat ini selalu digadang-gadang menjadi salah satu generasi tim nasional terbaik yang pernah ada karena prestasi menahan imbang Uni Sovyet walaupun di partai ulangan harus mengakui keunggulan Uni Sovyet 0-4. Jika sekarang merchandise seperti penggaris dan pulpen bergambar bintang-bintang sepakbola dunia semodel Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo, di masa itu, merchandise itu bergambar muka dan tulisan dengan nama Aang Witarsa. Sebuah pengakuan atas kehebatan aang Witarsa di saat itu.
Tim Cadangan Persib XI sepanjang masa: Djudju Sukandar; R.E Suhendar, Dadang Hidayat, Daman Suryatman; Bambang Sukowiyono, Yaris Riyadi, Henkie Timisela, Risnandar Soendoro; Djadjang Nurjaman, Kekey Zakaria, Ade Dana.
Akan ada banyak debat panjang dalam pemilihan tim Persib XI sepanjang masa. Contohnya adalah bagaimana mungkin pemain seloyal Dadang Hidayat hanya bisa terpilih didalam tim cadangan Persib XI sepanjang masa. Tapi ya itulah, Persib terlahir dengan sejarah yang sangat panjang. Sebelas orang terbaik akan menjadi sangat kurang untuk menjelaskan bagaimana tim ini adalah tim besar yang pernah melahirkan banyak pemain berbakat. Persib XI sepanjang masa dibuat seobjektif mungkin. Tim besar memang akan selalu melahirkan pemain besar.

*Sumber : www.mengbal.com



Minggu, 29 Juli 2012

Juventus Club Indonesia Chapter Banjarmasin (Part I)


Sebelum sayah memulai tulisan ini,ada baiknya sayah siapkan dulu segala peralatan perang untuk melengkapi misi sayah mengungkit sejarah berdirinya komunitas ini. Cukup dengan segelas air putih dan alunan merdu suaranya Sang maestro musisi Indonesia abad ini ; Iwan Fals…

Okeh kita mulai…

2007-2008
Sebenarnya niatan awal sayah untuk membentuk komunitas ini adalah berbarengan dengan ditugaskannya sayah oleh kantor dimana tempat sayah mengais rejeki. Dan di ibukota provinsi Kalimantan selatan (baca : Banjarmasin) inilah sayah ditugaskan mulai  tahun April 2007,dimana saat itu Juventus Club Indonesia atau lebih dikenal JCI masih bernama Juventini Indonesia. Mungkin sekitar hampir 1 tahun setelah Juventini Indonesia berdiri.
Alasan mendasar sayah adalah hanya karena ingin menambah jaringan pertemanan dengan rekan-rekan disini. Karerna jujur saja waktu itu sayah belum punya banyak teman,hanya teman-teman kantor saja. Alasan lain karena sayah ingin betul untuk bisa nonton tim kebanggan sayah JUVENTUS bertanding,lama sudah sayah tidak pernah melihatnya. Bahkan mungkin terakhir nonton itu waktu final Liga Champion 2003 dirumah teman, dan saat Juventus kalah adu penalti sama tim merah hitam.
Dari situlah sayah membulatkan tekad untuk bisa membentuk komunitas ini disini. Jujur lagi, sayah iri dengan chapter-chapter lain saat itu di pulau jawa. Jakarta sebagai homebase utama Juventini Indonesia,Jogja,Surabaya,Bandung dan kota-kota lain di jawa yg begitu hebatnya mereka bisa mengembangkan komunitas tersebut. Semakin melecut niat sayah untuk mengembangkan juga Juventini Indonesia di Banjarmasin.sayah berkata pada diri sayah sendiri “Mereka bisa,kenapa sayah enggak”.
Sayah mulai mencoba dengan beberapa cara. Diawali dengan bergabungnya sayah di forum juventini Indonesia. Sebuah forum dimana disitu semua tersedia berbagai macam informasi tentang Juventus dan lengkap dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan disalahsatu thread (other chapter) ternyata sudah ada thread mengenai Juventus Club Indonesia Chapter Banjarmasin yg dibikin oleh salahsatu member bernama Samuel lauw. Dan dialah kelak yg menjadi rekan pertama sayah untuk saling bertukar pikiran mengenai pembentukan komunitas ini. Dari semenjak kenal di forum itulah sayah kemudian memberanikan diri  utk menghubungi  Samuel,sekedar menyapa dan sesekali sayah ajak beliau untuk bertemu. Walaupun hanya beberapa kali dan sempat sayah ajak untuk bermain futsal dengan rekan-rekan kantor sayah,paling tidak sayah semakin termotivasi utk membentuk komunitas ini. namun karena kesibukan kami masing-masing,niatan kami sedikit terkendala. Bahkan sayah sendiri sempat untuk tidak ingin meneruskan niatan awal sayah membentuk komunitas ini. Mungkin ini yg dinamakan putus asa..ahahaaa J
Tapi ya sudahlah,itu mungkin hanya perasaan kecil sayah. Karena pada dasaranya,keinginan sayah tetap besar dan bulat untuk membentuk komunitas ini.

2009
Ditahun ini adalah untuk pertama kalinya sayah ikut Gathering Nasional ke 3,dimana saat itu Chapter Jogja yg menjadi tuan rumah. Sayah bergabung dengan rekan-rekan dr pusat. Dan pada akhirnya sayah bisa bertemu dengan mereka yang sudah lebih dulu sayah kenal lewat dunia maya. Sayah sedikit ceita mengenai perkembangan juventini di Banjarmasin pada mereka. Dan mereka pun memberikanmotivasi pada sayah untuk terus melanjutkan niatan sayah. 





2010
Ditahun ini semakin giatlah sayah untuk selalu berkomunikasi dengan rekan-rekan juventini se-indonesia di forum Juventini Indonesia tanpa melupakan promosi chapter sendiri (baca : chapter Banjarmasin). Walaupun waktu itu thread chapter Banjarmasin hanya sayah dan Samuel yg selalu posting, tapi tidak menyurutkan niatan sayah.
Forum Juventini Indonesia dijadikan sebagai media promosi chapter Banjarmasin,karena saat itu tidak ada lagi media lain yg bisa sayah gunakan. Jejaring

sosial yg sekarang lagi nge-trend saat itu belum terlalu terkenal.
Tahun ini pula sayah kembali ikut Gathering Nasional ke 4 (28-30 Mei),dimana saat itu Chapter Surabaya menjadi tuan rumah. Dan lagi-lagi,sayah ikut dengan rekan-rekan pusat. Namun sayah mulai memberanikan diri untuk membawa nama Chapter Banjarmasin saat itu.


Pertengahan tahun ini cerita JCI Chapter Banjarmasin di mulai…
Di awali pada bulan juli (saya lupa tanggalnya),yang sayah ingat waktu itu sayah baru saja pulang dari outing bersama rekan-rekan kantor . Dan menyempatkan diri untuk singgah di Jakarta menemui keluarga sayah dan juga berkunjung ke bogor (ke rumah teman) J . tiba-tiba saja ponsel sayah berbunyi (ada sms),dan setelah sayah cek dari nomer yg tidak ada dalam ponsel sayah. Isinya pertanyaan yg bikin sedikit tertawa : “ini kang dadan yah?kang dadan ketua JCI Chapter Banjarmasin. Kira-kira itu lah  isi sms itu, sayah  cuma jawab ; “boro-boro ketua, lha wong belum kebentuk kok!!”. 
Catatan ; sms itu dr sdr. Dudi Albanna yg sekarang menjabat Div. Nonbar JCI Chapter Banjarmasin
Nah, hasil dari sms itu pada akhirnya bisa berlanjut setelah sayah mendarat di Banjarmasin.
  
D’Cost Minggu, 18 Juli 2012
Ini adalah hari yang sangat bersejarah karena kelak tanggal ini dijadikan sebagai tanggal berdirinya Juventus Club Indonesia Chapter Banjarmasin….


Pada akhirnya sayah bisa bertemu dengan beberapa juventini yang ada di Banjarmasin. Mereka adalah ; Dudi Albanna, Hendra ehenmeru, Badia mahar priguna, Yudhi, Deni Yudhistira, Fahmi Rudian.   Jujur waktu itu sayah bingung,karena harus memulai dari mana untuk membicarakan dan membentuk komunitas ini. Namun pada akhirnya semua melebur,saling bercerita mengenai Juventus. Dan usut punya usut ternyata rekan-rekan yg hadir ini ternyata masih ada keterkaitan pertemanan. Ada yang memang dulunya satu sekolah, ada pula yang dulunya teman kuliah. Jadi intinya,pertemuan ini seperti reunian.

Okeh kita lanjutkan ke cerita selanjutnya…..
Pembicaraan berlanjut mengenai apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Dari hasil berdiskusi,akhirnya ada kesepakatan kalau kegiatan ini akan dimulai dengan mengadakan futsal. Dan sayah memberikan usul untuk bermain futsal bersama rekan-rekan kantor di Lapangan Futsal Sasana Bina Krida.





Di waktu yang sudah ditentukan,bermain lah kita di lapangan futsal sasana. Dan ternyata ada penambahan juventini saat itu. Kalo tidak salah ada 3 orang juventini yang ikut bergabung. Ada Harno,Heru dan Novan. Sebagai catatan, Harno ini sebenarnya sudah lama sayah kenal melalui sms,namun beliau sepertinya sibuk dengan kegiatannya sehingga tidak bisa bertemu dan baru kali ini dia datang.
Ada alasan kenapa saat itu futsal yang kami prioritaskan. Diantaranya adalah futsal saat itu sedang ramai-ramainya di Banjarmasin. Walaupun hanya ada beberapa lapangan futsal saja yg baru ada. Namun futsal dijadikan sebagai media promosi dari komunitas ini.




Selanjutnya di futsal berikutnya semakin banyaklah rekan-rekan yg bisa hadir. Sayah gak habis fikir,darimana mereka bisa tau ada komunitas ini. Yang jelas sayah kaget dan hampir gak percaya, ternyata banyak juga juventini di Banjarmasin. Singkatnya,dikarenakan semakin banyaknya juventini yang selalu hadir,sayah memutuskan untuk mencari lapangan futsal lain agar semuanya bisa terkoordinir dengan baik dan rekan-rekan juventini bisa bermain semuanya. Dan dapatlah kami sebuah lapangan di daerah Kuin (BBB) kalau tidak salah untuk melanjutkan kegiatan futsal kami. Semakin banyaklah juventini yang datang. Sehingga keputusan kami ambil lagi untuk memindahkan kegiatan futsal ke lapangan yang lain. Akhirnya UPIK Futsal kami jadikan tempat untuk bermain futsal rutin di setiap hari minggu pukul 14.00-16.00 wita waktu itu dan berlanjut sampai sekarang ini

Sementara futsal terus dilaksanakan, Liga Italia musim 2010-2011 pun segera dimulai. Berfikirlah kami untuk mencari tempat Nonton bareng. Bertemulah kami di sebuah tempat makan di daerah kampung gedang (Pondok Bahari) untuk membicarakan agenda nonton bareng. Hasil keputusannya adalah dibagi beberap tim untuk melakukan survey ke beberapa tempat makan ataupun tempat lainnya untuk dijadikan sebagai tempat nonbar. Dan lagi-lagi sayah harus jujur saat itu. Ada perasaan bangga dan terharu melihat perjuangan dan keinginan yang kuat dari rekan-rekan juventini. Dan hasil dari kerja keras rekan-rekan semua,akhirnya kami menemukan sebuah tempat untuk dijadikan sebagai tempat nonbar musim itu. Adalah Full House Café di Jl. Gatot Subroto kami jadikan sebai tempat untuk nonton bareng tim kebanggaan kami JUVENTUS FC berlaga di Liga Italia musim 2010-2011.

Berhubung otak sayah mulai tidak bisa berfikir cerdas, jadi cerita akan sayah sambung lagi dikemudian hari….

Rabu, 25 Juli 2012

Mukaddimah...



Jujur,lama sudah sayah berniat utk buat blog..tapi,tidak ada keyakinan dalam diri saya untuk membuatnya. dengan berbagai macam alasan. malas lah,pusing lah,sibuk lah, dan yg pasti sayah bukan tipikal orang yg bisa  menulis sesuatu dengan baik dan benar (baca : sesuai EYD).

Sebenarnya banyak cerita,pengalaman dalam hidup sayah yg ingin sayah tuangkan disini. saling berbagi ilmu yg sayah dapatkan sampai di usia sekarang ini.Hobi,Pekerjaan,Keluarga, bahkan Cinta :)

Namun,seperti yg sayah bilang dr awal tadi yg membuat sayah pada akhirnya tidak melakukannya. Dan pada akhirnya,mulai saat ini,hari ini Rabu 25 Juli 2012 Pkl.11.45 Wita sayah akan memulai mencoba meng-obrak abrik pengalaman sayah yg akan dituangkan disini...

Selamat menikmati tulisan-tulisan sayah...dan maaf kalo sayah tidak se-kreatif william shakespeare dalam merangaki cerita romeo dan juliet..atau sayah tidak semahir Allesandro Del Pierro dalam menggocek bola..dan bahkan sayah tidak sepandai Thomas Alfa edison yg menemukan bola lampu...*apaaaa coba ini..ahahaaa


sudahlah,terlalu banyak bacot semakin memperlihatkan kepintaran dibalik kebodohan sayah


*shaum di meja kantor